BERITANUSANTARA.com
FOLLOW BERITA NUSANTARA Like Like Like Like
Sabtu | 17 Juni 2017 | 03:33:40 WIB

LIPUTAN KHUSUS

Yayasan Beasiswa ISRSF Gelar Arryman Symposium ke-5 di Tahun 2017

REDAKSI - BERITANUSANTARA.COM
Yayasan Beasiswa ISRSF Gelar Arryman Symposium ke-5 di Tahun 2017
BERITANUSANTARA.com,- Yayasan Beasiswa dan Dukungan Penelitian Indonesia (ISRSF) Menggelar Acara Arryman Symposium ke-5 pada tanggal 16 juni 2017 di Jakarta. Acara ini menjadi pusat Pemerhati politik, Pengusaha, Mahasiswa, Akademisi dan Peneliti yang hadir.

Symposium ini diadakan setiap tahun sebagai suatu kesempatan untuk memaparkan hasil riset dan kerja keras Arryman Fellows yang telah belajar selama satu tahun di Northwestern University, USA.

Ketua dari pendiri yayasan beasiswa ISRSF sekaligus yang bertanggung jawab untuk program Arryman di Northwestern University, Prof. Jeffrey Winters menjelaskan, "Program ini diharapkan dapat memberikan pembaharuan untuk Indonesia dalam kurun waktu satu dekade kedepan. Karena harapannya para Arryman Scholars akan memberikan pemikiran dan ilmunya baik secara langsung maupun melalui mahasiswa yang dibimbingnya, sehingga proses perubahan ini dapat terus bergulir" ,di Jakarta (16/6/2017).

Tahun ini, lima mahasiswa doktoral akan memaparkan makalahnya dengan fokus pada:

1. Sari Damar Ratri, memaparkan makalah bertema "At Home or in a Clinic: An Ethnography of Trust Construction and Risk Calculation in Indonesia’s Maternal and Neonatal Development" dengan memaparkan topik yang menarik mengenai Revolusi Kesehatan Ibu dan Anak. "Seringkali pembangunan dijadikan mantra paling mujarab untuk menangani segala persoalan kemiskinan di Indonesia termasuk persoalan kesehatan ibu dan anak".

2. Bahram Naderil, menerangkan tentang "Contesting Bridewealth-Classification of the Bugis Marriage Prestations". "Paper ini membahas salah satu aspek dari pernikahan Bugis yaitu "Bridewealth System." Para antropologis yang meneliti Bugis sebelumnya mengklasifikasikan tradisi sompa (nilai status keluarga) dan dui menre (uang belanja) ke dalam kategori antropologi yang disebut Bridewealth. Analisa yang saya bangun mengacu pada teori "performativity" yang dikembangkan oleh Judith Butler (1990)".

3. Aulia Dwi Nastiti hadirkan makalah berjkudul, "Worker Unrest and Contentious Labor Practice of Ride-Hailing Services in Indonesia" "Kenapa transportasi online, yang digadang sebagai solusi bagi kemacetan dan pengangguran, justru memicu protes dari para "mitra supir" sendiri? Temuan dari narasi para supir ojek online mengindikasikan bahwa relasi antara perusahaan aplikasi dan supir, bukan relasi kemitraan yang setara tetapi relasi yang eksploitatif. Kekosongan regulasi dan ketiadaan perlindungan hak pekerja semakin melemahkan posisi tawar supir transportasi online.

4. Mirna Nadia dengan materi, "Shifting Boundaries and Contentions: The Regulation of ‘Victimless Crimes’ in Indonesia" Pasca jatuhnya rezim Orde Baru, telah terjadi perubahan regulasi-regulasi yang mengatur perihal victimless crimes-- mulai dari diterapkannya norma-norma gender melalui kebijakan publik serta propaganda hingga kriminalisasi berbagai perilaku dan identitas yang dianggap menyimpang dari norma-norma tersebut.

5. Ririn Radiawati: "Power and Free Speech : The Elites’ Resistance to Criticism in Indonesia". "Berakhirnya kekuasaan Suharto pada tahun 1998 membawa Indonesia ke langkah baru menuju demokrasi. Namun, setelah 19 tahun reformasi, Indonesia masih belum menerapkan kebebasan berbicara secara maksimal. Pada tahun 2008, pemerintah menerbitkan UU ITE yang mengatur pencemaran nama baik di Internet. UU tersebut menambah lapisan hukum yang mengatur pencemaran nama baik selain di UU KUHP untuk membungkam kritik terhadap pemerintah".

Kelima Arryman Fellows tersebut didampingi oleh lima discussant yaitu, Dr. Jonathan R. Pincus, Presiden Direktur Rajawali Foundation, Dr. Irwan Hidayana & Dr. Johana Imelda Tobing dari Universitas Indonesia, Iqra Nugraha, PhD Candidates dari University of Northern Illinois dan Gde Dwitya Metera, PhD Candidate dari Northwestern University.

"Atas nama Yayasan saya sangat mengapresiasi setinggi-tingginya atas sumbangan pendidikan dari PT Djarum, PT Bank BCA, PT Adaro, The Rajawali Foundation, PT AKR Tbk, dan William Soeryadjaja Foundation, dimana dengan bantuan dana beasiswa dari perusahaan tersebut kami dapat turut serta mewujudkan Generasi Akademisi Terbaik dengan standard Internasional untuk mewujudkan dunia pendidikan dan masa depan Indonesia yang lebih baik", ucap Prof. Jeffrey Winters. (ut)
Komentar ...
News Update