BERITANUSANTARA.com
FOLLOW BERITA NUSANTARA Like Like Like Like
Minggu | 08 Juni 2014 | 21:59:26 WIB

NASIONAL

Hatta Rajasa, Dibalik Mafia Migas Muhammad Riza Chalid

REDAKSI - BERITANUSANTARA.COM
Hatta Rajasa, Dibalik Mafia Migas Muhammad Riza Chalid
BERITANUSANTARA.com,- ReportaseIndonesia.com - Jakarta, Mafia minyak yang menguasai dan mengendalikan PETRAL hingga saat ini adalah orang kuat yang tidak tersentuh. PETRAL (Pertamina Trading Energy Ltd) merupakan Perseroan Terbatas anak perusahan Pertamina yang bergerak di bidang perdagangan minyak. Tugas utama PETRAL adalah menjamin supply kebutuhan minyak yang dibutuhkan Pertamina / Indonesia dengan cara membeli minyak dari luar negeri.

Jumlah uang yang cukup besar digunakan Petral untuk mengimpor minyak Rp 275,5 triliun per tahun ini tak pernah luput dari incaran mafia minyak. Sosok mafia minyak "orang kuat" yang sering disebut-sebut mengendalikan Petral adalah Muhammad Riza Chalid yang diduga menguasai Petral selama puluhan tahun.

Menurut pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy, nama mafia minyak Muhammad Riza Chalid yang disebut sebut merupakan kroni bisnis Pertamina sudah dikenal sejak era Soeharto. Warga Negara Indonesia keturunan Arab ini, di lingkungan bisnis perminyakan, yang bersangkutan dikenal powerful sehingga bisa mengatur berbagai transaksi.

Riza diduga menguasai PETRAL selama puluhan tahun dengan cara bekerjasama melalui perusahaan miliknya Global Energy Resources yang merupakan holding dari 5 perusahan boroker minyak, yakni Supreme Energy, Orion Oil, Paramount Petro, Straits Oil dan Cosmic Petrolium yang berbasis di Singapore & terdaftar di Virgin Island yang bebas pajak. Kelima perusahaan itu merupakan mitra utama Pertamina. Tetapi beberapa pelaku industri perminyakan juga mengatakan, kalaupun mereka menggunakan tender, pengaturannya mudah saja.

Nama Riza tidak tercantum dalam akte Global Energy Resources, melainkan Iwan Prakoso (WNI), Wong Fok Choy, dan Fernadez P. Charles, tetapi sesungguhnya Riza adalah pemiliknya.

Riza cs mengatur sedemikian rupa agar negara RI tergantung oleh impor bensin dan solar. Impor bensin & solar kita 200 juta barel per tahun. Selain itu, kelompok Riza ini juga yang diduga selalu menghalangi pembangunan kilang pengolahan BBM dan perbaikan kilang minyak di Indonesia.

Harga beli minyak mentah Petral sepanjang tahun 2011 rata-rata US$ 113.95/barel. Harga rata-rata minyak dunia jenis brent (kualitas baik) pada tahun 2011 adalah US$ 80-100/barel dan harga tertinggi US$ 124/barel. Menurut sumber, ada mark up harga oleh Petral minimal sebesar US$ 5 /barel dan jika diaudit lebih rinci mark up itu kabarnya bisa sampai USD 30/barel. Mafia minyak juga diduga mengatur untuk membeli minyak mentah dari Arab/Afrika, lalu diolah di kilang Singapura dan dari Singapura baru diekspor ke Indonesia. Meski ada indikasi terjadi mark up, namun menurut Ichsanuddin Noorsy adalah sulitnya mencari auditor yang bisa kita percaya bahwa ada mark up US$ 5 per barel.

Di samping Riza, dulu Tommy Suharto juga disebut-sebut sebagai salah satu mafia minyak. Perusahaan Tommy diduga melakukan mark up atau titip US$ 1-3/barel. Kita sudah tahu siapa Tomy Suharto, tetapi siapakah Muhammad Riza Chalid ? Dia adalah WNI keturunan Arab yang dulu dikenal dekat dengan keluarga Cendana. Riza, pria berusia 55 tahun ini disebut-sebut sebagai ‘penguasa abadi’ dalam bisnis impor minyak RI. Dulu dia akrab dengan Suharto. Sekarang merapat dengan SBY.

Riza disebut-sebut siapapun pejabat Pertamina termasuk Dirut Pertamina akan gemetar dan tunduk jika ketemu dengan dia. Siapapun pejabat Pertamina yang melawan kehendak Riza akan lenyap alias terpental. Termasuk Ari Soemarno, Dirut Pertamina yang dicopot jabatannya. Ari Soemarno dulu terpental dari jabatan Dirut Pertamina gara-gara hendak memindahkan PETRAL dari Singapura ke Batam. Riza tidak setuju. Ari selanjutnya dipecat. Jika PETRAL berkedudukan di Batam / Indonesia tentu pemerintah dan masyarakat luas lebih mudah mengawasi operasional PETRAL yang terkenal korup. Rencana Ari Soemarno ini tentu dianggap berbahaya. Bisa menganggu kenyamanan ‘Mafia Minyak’ yang sudah puluhan tahun menikmati legitnya bisnis minyak.

Para perusahaan minyak dan broker minyak internasional mengakui kehebatan Riza sebagai ‘God Father’ bisnis impor minyak Indonesia. Di Singapura, Riza dijuluki sebagai ‘Gasoline God Father’. Lebih separuh impor minyak RI dikuasai oleh Riza. Tidak ada yang berani melawannya. Beberapa waktu lalu Global Energy Resources, perusahaan milik Riza pernah diusut karena temuan penyimpangan laporan penawaran minyak impor ke Pertamina. Tapi kasus tersebut hilang tak berbekas dan para penyidiknya diam tak bersuara. Kasus ditutup. Padahal itu diduga hanya sebagian kecil saja.

Orang Yang berada di belakang Riza

Hatta Rajasa disebut-sebut menjadi orang yang berada di belakang Riza. Menurut Majalah Forum Keadilan, Reza Chalid memiliki kedekatan dengan Hatta Rajasa. Dalam menjalankan operasinya, dalam persepsi publik, bukan tidak mungkin jika Reza Chalid memerlukan lobby politik ke istana untuk memperlancar bisnisnya.

Bermula dari berita seputar besarnya pengaruh Menteri Koordinasi Bidang Ekonomi Hatta Rajasa dalam penyusunan Kabinet Indonesia Bersatu jilid dua, pada perkembangannya informasi melebar ke sebuah temuan menarik, bahwa Hatta Rajasa disinyalir memiliki kedekatan dengan mafia minyak yang berbasis di Singapore, Mohammad Reza dari Global Energy Resources.

Yang menarik, operasi intelijen kabinet versi Hatta yang berhasil merekomendasikan 60 persen jago-jagonya menjadi jajaran menterinya Presiden SBY, konon kabarnya dibiayai oleh Mohammad Reza.

Karena bagaimanapun juga Hatta Rajasa, sebelum bergabung dengan Partai Amanat Nasional, sudah dikenal dan merupakan pelaku bisnis bidang minyak dan energi.

Direktur Riset Badan Pemerhati Migas (BP Migas) Syafti Hidayat meminta Menteri Perekonomian Chairul Tanjung mengungkap dugaan keterlibatan Hatta Rajasa dalam sindikat mafia migas. Chairul diminta agar tidak sungkan-sungkan untuk membuka masalah mafia migas dan energi tersebut

Syafti menduga Hatta sengaja tidak mendirikan kilang pengolahan agar Indonesia terus impor dan mendapat komisi dari mafia. “Selama ini Indonesia terus bergantung pada BBM impor. Sengaja tidak mendirikan kilang pengolahan supaya impor jalan terus dan komisi diperoleh mafia," lanjut Syafti melalui keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (5/6/2014).

Syafty melanjutkan, "Hatta Rajasa dan Reza juga mencengkeram luas seluruh bisnis migas di Indonesia, termasuk ekspor," (utw)
Komentar ...
News Update